Perguruan Tinggi merupakan institusi pendidikan yang wajib melaksanakan tri dharma perguruan tinggi yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Mengingat pentingnya tiga fungsi utama tersebut, seluruh institusi pendidikan berlomba lomba untuk memperbaiki dan membangun konstruksi sistem dan struktur fasilitas kampus guna menunjang berjalannya proses yang ideal dalam penjalanan fungsi sebuah institusi perguruan tinggi.
Di tengah-tengah isu yang banyak menerpa perguruan tinggi ada hal yang paling mudah terlihat dan dipandang menjadi sorotan yaitu fasilitas kampus. Ada orientasi dan ekspektasi yang diberikan oleh seluruh civitas akademika dalam memandang fasilitas kampus. Kampus seyogyanya menjadi wadah untuk seluruh elemen dari kampus tersebut. Wadah yang dimaksud yaitu mampu menjadi pusat aktivitas atau kegiatan seluruh penghuni kampus.
Universitas mulawarman merupakan universitas negeri terbesar di Kalimantan timur yang memiliki mahasiswa sebanyak 35.268 orang dari 14 fakultas (program diploma, sarjana dan pasca sarjana) pada tahun 2010. Seiring bertambahnya kuantitas mahasiswa maka seharusnya berbanding lurus dengan kualitas sarana dan prasarana yang ada. Banyak fasilitas yang disediakan oleh unmul untuk menjadi pusat kegiatan kampus.
Ketika kita berbicara kualitas sarana dan prasarana pendukung, maka kita akan melihat bagaimana grand design pembangunan unmul itu sendiri secara menyeluruh. Fasilitas-fasilitas yang ada tentunya banyak menuai pro dan kontra dikalangan mahasiswa dan dosen selaku elemen primer di sebuah institusi pendidikan, bahkan ada pembangunan yang ternyata tidak sesuai dengan maket yang ada. Jika kondisi yang menyangkut terkait fasilitas ini selalu dibenturkan dengan dana maka kita juga harus faham terkait banyaknya anggaran dari pemerintah yang mencapai ratusan milyar masuk ke unmul setiap tahunnya.
Dari perspektif anggaran, universitas mulawarman dalam beberapa tahun terakhir menerima dana pemerintah mencapai setengah trilyun rupiah yang konon di sedot dari APBD Kaltim. Ini merupakan dana yang spektakuler dan belum lagi Dana Pengembangan Fakultas (DPF) yang
kemudian di wacanakan sebagai alternatif untuk menutupi defisit anggaran tersebut pun kerap kali tidak jelas dalam tata kelola bahkan total jumlah yang di terima oleh Universitas. Belum selesainya permasalahan legalisasi DPF, dana-dana serupa kemudian menyusul dengan alasan yang di tengarai sama, yaitu kurangnya dana operasional akademik. Berapa dan kemana aliran dana yang ada? Ini merupakan sebuah pertanyaan yang kemudian timbul di benak tiap orang. Pro dan kontra terkait DPF sampai sekarang belum menemukan titik terang dan masih dalam proses kajian hukum.
Kondisi yang paling mudah dirasakan adalah ketika kembali ke fakultas masing-masing. Salah satu contoh yaitu dalam hal menunjang penelitian mahasiswa, fasilitas laboratorium merupakan hal yang sangat diperlukan. Fakta yang ada memperlihatkan bahwa bukan melengkapi fasilitas laboratorium yang ada namun justru lebih melengkapi fasilitas kendaraan, taman dan pengadaaan lain yang dinilai belum efektif dan belum dibutuhkan secara mendesak. Tanpa mengesampingkan kebutuhan yang lain, seharusnya ada skala prioritas yang harus diterapkan dalam hal kelengkapan fasilitas pendukung pendidikan, salah satunya adalah laboraturium itu sendiri. Disatu sisi mahasiswa selalu dituntut untuk maju dalam hal inovasi dan akurasi ketepatan berpikir, riset, teknologi dan lain-lain, namun disisi lain fasilitas penunjang contohnya laboratorium yang ada belum mampu memfasilitasi mahasiswa khususnya pada program studi yang bersifat eksakta dan ilmu pasti seperti Fakultas Teknik, MIPA, Kedokteran, Pertanian, dan lainnya.
Sudah semestinya ini patut mendapat perhatian yang menjadi prioritas pembangunan Universitas Mulawarman karena skala kelulusan yang di up grade terus menerus di tiap tahunya dalam rangka meningkatkan mutu lulusan yang ada. Tanpa mengurangi rasa cinta kami terhadap mulawarman mengingat besarnya pean yang dimainkan unmul berikan kepada pembangunan Indonesia pada umumnya dan kaltim pada khususnya selama hampir 50 tahun terakhir. Masih banyak PR yang harus diselesaikan oleh unmul dan kami selaku mahasiswa siap untuk berperan serta sebagai wujud cinta kami pada almamater kuning.
(dimuat di Goes to Campus Kaltim Post Edisi Minggu, 18 Maret 2012)
